foto groupies travel

Rinjani dan Jalur Torean yang Cantik Terselubung

Hantaman angin semalaman membuat kami terus terjaga, dan pagi ini kami terbangun dengan harapan badai semalam telah berlalu. Suara derap langkah beberapa pendaki menuju jalur summit terdengar tepat di sebelah tenda kami. Pagi itu angin masih bersenandung kencang di atas plawangan Sembalun. Matahari pagi tak ubahnya penghangat bagi kami dan sambil menunggu kopi pagi dari amaq Udha dkk saya duduk sambil memandangi lansekap di tepian plawangan Sembalun.

Sepagi ini dan urusan saya untuk hajat pagi belum nampak, sepertinya ramuan Vero malam tadi sangat manjur. Sebenarnya ada banyak lokasi untuk sekedar buang hajat dan dari pihak guide pun kadang dibuatkan tempat khusus untuk buang hajat. Interesting rite? Hahahaha buat saya sih itu bukan persoalan asalkan nggak ketemu ‘ranjau’ pas di area jalan saja.

rinjani-dan-jalur-torean

kabut yang merangsak turun dari bukit plawangan Sembalun

 

rinjani-dan-jalur-torean-yang-terselubung

nampak lembah yang nantinya akan kita lewati sebagai jalur pulang

Sambil meneguk kopi pagi saya, Ahon, Handri dan Devri duduk dan memandangi lansekap disekitar. Danau Segara Anak terlihat dari tempat kami bercengkrama, sesekali tertutup oleh kabut yang melintas diatasnya. Para pendaki yang lalu lalang sedikit bercerita tentang summit yang pagi ini nampaknya nihil. Kami seakan benar-benar menikmati terpaan angin pagi itu, duduk dan terdiam sambil mengamati sekeliling kami. Hamparan danau segara anak jauh terlihat dibawah sana tak jauh dari situ terlihat gugusan kawah gunung Baru jari, sedang di arah punggung kami menjulang puncak Rinjani.

Baca juga : Rinjani, Panorama yang Terbingkai Indah Setiap Sudutnya

Keheningan kami pagi itu langsung buyar saat amaq Adhi memanggil, tanda sarapan telah siap terhidang. Jeng Ara yang sedari tadi terlihat sedang bercakap dengan Anas guide kami pun turut merapatkan barisan. Lirih terdengar kalau dia nampaknya masih penasaran untuk summit pagi itu, dan beberapa kali Anas pun sepertinya mencoba menjelaskan tentang kondisi cuaca yang mengharuskannya urung untuk sekedar foto di puncak Rinjani. Kami melahap masakan para chef sekaligus merangkap porter kami yang luarbiasa enaknya. Kata orang masakan yang enak itu jumlahnya berbanding lurus dengan jumlah Ibu yang ada di dunia. Mungkin artinya masakan enak itu lahir dari tangan-tangan ibu yang telaten masak untuk anaknya. Atau mungkin amaq Adhi, Udha dan pak lode memang terampil meramu masakan. Buat saya pribadi masakan enak apapun itu akan lebih enak rasanya kalau kita yang memakannya memang dalam kondisi lapar. Tapi memang masakan para chef gunung kami ini memang maik alias enaaaakk.

Kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan kami ke camp selanjutnya yaitu di tepian danau Segara anak. Terlihat selintas jalur menuruni bukit plawangan sembalun yang lumayan curam, estimasi waktu kami sekitar 5 jam untuk sampai di area camp selanjutnya untuk menginap. Sementara Anas nampak sedang membujuk jeng Ara untuk ikut melanjutkan perjalanan, tentu saja dengan iming-iming menimati mandi air hangat plus adanya toilet di bawah sana. Saya dan Vero seperti biasa menjadi tim sweeping alias paling belakang sambil sesekali mengambil gambar lansekap sekitar yang memang sebenarnya enggan untuk kami tinggalkan.

rinjani-dan-jalur-torean

duet maut amaq Udha dan amaq Adi dengan perbekalan yang mereka bawa

rinjani-dan-jalur-torean-yang-terselubung

menuruni bukit plawangan sembalun menuju ke danau segara anak, beginilah pak ledo membawa beberapa barang perbekalan kita

Jalur ke arah danau Segara anak terlihat mulai landai. Di depan kami terlihat beberapa rombongan sedang beristirahat, kamipun nampak lelah sepertinya. Amaq Adhi dkk terlihat sedang mempersiapkan makan siang kami. Tak luput Amaq Udha sedang mempersiapkan sambel plecingnya yang khas, makin laparpun perutku didera. Saya berbincang dengan jeng Ara, tak banyak yang kami tahu selain dia adalah seorang solo traveler dari negeri Jiran. Kadang kami pun tertawa melihat tingkah laku teman kami yang satu ini. Berulang kali berujar taubat nasuha sembari tetap menapaki tanjakan dan turunan. Satu waktu dia menyegerakan untuk menggapai base camp sebelum maghrib menjelang. Dengan seluruh daya upayanya dia kerahkan agar dapat sampai sesegera mungkin. Lalu saya bertanya kenapa tergesa-gesa agar terhindar dari gelap malam di jalan? Lalu dia pun bercakap kalau dirinya sungkan bila gelap bertemu ‘alien’ disamping penglihatan dia yang kurang tajam saat malam.

Ahon yang sedari tadi terkena cedera kaki nampak sedang meluruskan kakinya. Tak lama Ahon dan Devri kemudian sibuk mencari tempat untuk buang air kecil sementara saya, Handri dan Vero duduk manis menunggu kopi terhidang. Seronok nyaa.. tak terasa diselingi canda dan gurau kami terhidang sudah makan siang yang kami tunggu.

Danau Segara Anak

Menjelang pukul 03.00 sore kamipun sampai di lokasi kemping kami yakni di area dekat danau Segara Anak. Berada di ketinggian 2000 mdpl dengan hamparan danau vulkanik yang luas didepan kami serta rindang oleh pohon-pohon yang tumbuh disekitarnya menjadikan hawa dingin makin terasa. Sambil menunggu tenda kami berdiri saya mengamati sekeliling danau, beberapa orang sedang asyik memancing, ada yang duduk termenung. Sesekali kabut turun dari arah plawangan senaru ke permukaan danau lalu terhempas angin menuju kearah gunung Baru jari. Sore yang saya lewati kali ini benar-benar beda,menikmati hamparan danau yang indah di depan saya sedikit menggerus rasa lelah perjalanan menuruni plawangan sembalun tadi. Dan ada satu hal istimewa yang kami nanti sebenarnya yakni berendam di kolam air panas yang letaknya tidak jauh dari tenda kami.

rinjani-dan-jalur-torean-yang-terselubung

dari tepian danau kami hening, duduk menikmati sore yang tenang

 

rinjani-dan-jalur-torean-yang-terselubung

menjelang sore di danau segara anak

 

rinjani-dan-jalur-torean-yang-terselubung

kopi dan cerita ala jeng Ara

Menjelang malam hawa dingin kian menusuk, kami berbaur dengan Anas, amaq Adhi dkk di tenda mereka. Sajian kopi malam itu serta penggalan cerita-cerita kami bergantian menjadi menu yang tak kalah asyik. Lelah menjadi pemisah kami malam itu, sementara amaq Udha dan pak ledo nampaknya antusias dengan rencana memancing ikan malam itu.

Langit terang bertabur bintang, layaknya gulita yang menyekap semesta alam raya dan nyala sejuta bintang mengandaskannya. Sesekali angin dengan kawanan kabut melintas setara leher manusia diatas danau, langit sekejap menumpahkan air hitamnya sehingga bintang-bintang terkapar padam. Seolah terbuai kabut dan udara dingin, mantel dan sarung yang membungkus tubuh ini tak kuasa menahan hujamannya. Sesekali menoleh kearah tenda samar terdengar suara Jeng Ara dan Vero yang sedang berbincang. Malampun larut dan ragapun meringkuk dalam balut kantong tidur yang nyaman.

Panggilan hajat pagi itu dimulai dari pukul 5 pagi. Sesekali saya berupaya untung tak memperdulikannya namun apa daya, kuasa alam semesta dimana dingin menjadi pemicu yang tangguh. Saya melihat Handri, Ahon dan Devri yang tak bergeming dari tidurnya. Teringat tadi malam saat saya sedang asyik bercerita sementara Devri dan Ahon sudah tertidur pulas, Handri masih menyahut sepatah dua patah kata dan momen berikutnya yang terdengar adalah dengkurannya. Hahahaa serupa pendongeng saya tidur paling akhir nampaknya.

Jalur Torean yang Cantik

Perlahan-lahan sinar merangsak memadamkan buaian malam kembali ke terang. Dari pucuk plawangan sembalun lurus menembus bukit di plawangan senaru, bias kabut diatas segara anak perlahan-lahan menghilang. Pagi itu matahari cantik mengintai dari balik puncak rinjani di arah timur laut. Saya enggan berucap kalau pagi itu pagi terakhir saya di segara anak karena rasanya enggan untuk meninggalkannya. Tak butuh waktu lama kamipun bergegas untuk melanjutkan perjalanan pulang. Sarapan pagi itu simple sekali cukup dengan mi instan dan buah-buahan serta tak lupa kopi. Nampak Jeng Ara dan Vero sudah siap dengan perbekalan turun begitu pula kami berempat. Amaq Adhi mempersilahkan kami berjalan lebih dulu dengan bimbingan Anas sebagai guide. Perjalanan pulang kami sudah sepakat melewati jalur Torean yang notabene masih belum resmi untuk jalur pendakian dikarenakan faktor keamanan jalur. Namun dengan beberapa pertimbangan kami sepakat bahwa jalur Toreanlah yang paling bisa kami lewati.

Awal menuruni jalur torean kami sempat diingatkan bahwa nanti akan melewati beberapa titik rawan yang menuntut kita harus extra hati-hati. Dan memang benar adanya beberapa kali kami dibuat ngesot dengan kondisi jalurnya yang aduhai. Hahahaha… okelah fix saya akan menjulukinya jalur ngesot cantik karena sembari ngesot melintasi jalurnya kita akan disuguhi pemandangan yang tak kalah cantik seperti lansekap diluar negeri sana. Naik turun melewati jalan mengular diantara dua bukit yang sesekali kami tak berhenti mengagumi kecantikan alam rinjani ini.

rinjani-dan-jalur-torean-yang-terselubung

bagaimana?cantik bukan pemandangan background kami saat ngesot..

 

rinjani-dan-jalur-torean-yang-terselubung

jalur dengan pemandangan spektakuler plus bikin kaki gemetar

 

rinjani-dan -jalur-torean-yang-terselubung

amaq Adhi tepat berada di belakang rombongan kami dengan sisa perbekalan menuju pulang

Beberapa tangga dari kayu kami naiki sebagai lintasan menanjak, serta melipir di tepian dinding curam lembah. Aliran air terjun di dinding lembah di seberang membuat kami tersihir. Sebentar kami duduk dan menikmatinya sembari melepas penat dan menyeka peluh yang menetes. Penat ini sangat sepadan dengan pemandangan yang kami lihat saat itu.

Sesekali rombongan amaq Adhi dkk menyusul mendahului kami, beban yang mereka pikul tak serta merta menjadikannya berjalan lambat. Sungguh luar biasa. Hampir kurang lebih sebelas jam kami menempuh perjalanan pulang kami melewati jalur Torean dengan diselingi istirahat makan dan beberapa kali rehat melepas penat. Tak lama kami melewati hutan di kawasan Torean nampaklah ladang jagung milik petani di lereng senaru. Bahagia rasanya jalur pulang sudah segera usai dan kami diangkut mobil bak kembali ke rumah amaq Adhi untuk menginap disana.

 

rinjani-dan-jalur-torean-yang-terselubung

sejenak melepas lelah, menyeka peluh yang menetes dengan formasi komplit kami berenam

rinjani-dan-jalur-torean-yang-terselubung

tarian kebahagian, sebut saja demikian

rinjani-dan-jalur-torean

a happy face between the scary hill and the waterfall behind us

Kadang sebuah perjalan memang tak melulu tentang tujuan. Kadang perjalanan sedikit lebih berkesan karena kita benar-benar menikmati setiap jengkal langkah kita. Hal-hal receh yang kita lakukan, senda-gurau dengan teman seperjalanan bisa jadi momen yang selalu kita ingat kelak nanti. Saya mungkin minim pengalaman dalam menjadi seorang pejalan, tapi bukankah sesuatu yang besar itu berawal dari yang kecil bahkan dari yang kosong sama sekali.

Sampai bertemu di sudut semesta lainnya wahai pejalan. Sampai berjumpa lagi Rinjani yang cantik.

 

8 Comments

  1. Handri 8 September 2017
  2. Adelina Tampubolon 16 Oktober 2017
  3. kendru 17 Januari 2018
    • PejalanSenjaIndonesia 18 Januari 2018
      • kendru 21 Januari 2018
        • PejalanSenjaIndonesia 22 Juni 2018

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Instagram