foto groupies travel

Rinjani, Panorama yang Terbingkai Indah Setiap Sudutnya

Untuk kesekian kalinya saya mencoba untuk tetap kalem melihat hamparan savana nan luas membentang di depan saya, apadikata saya memang terlampau senang. Ah mari lompat-lompat, lalu duduk dan nikmati.

Hari sudah menjelang tengah malam saat saya tiba di bandara. Selesai tugas dari sulawesi yang lumayan menguras energi dan beban pikiran saya. Maklum kalau kacung ya begini ini musti nguli dulu buat sekedar hidup.. halah lebay ya. Setelah beberapa kali di cancel taxi online akhirnya ada juga yang mau pick up. Senang? Tentunya karena saya sudah membayangkan pembaringan malam ini di kasur rumah yang ala kadarnya tapi nyaman luar biasa.

Tepat satu jam lima belas menit saya sampai di rumah dan eng ing eng langsung tersungkur di kasur dan terlelap. Packing? Ah lupakan esok masih bisa tentunya, saya cuma butuh tidur malam ini.

I fulfill my energy after 8 hours take a nap. Sudah siap bertualang lagi dong ya..let’s packed your bag and go!

Pesawat ke lombok tepat berangkat pukul 12.55 WIB, lumayan on time penerbangan kali ini syukurlah. Saya dan kedua teman saya dari Bangka melanjutkan tidur pulas kami di pesawat. Oh ya trip saya kali ini bener bener random karena saya join dengan grup yang notabene baru saya kenal dan satu lagi adalah sang explorer dari negeri jiran.

Sesekali bolehlah kita sedikit santai karena trip ke Rinjani kali ini kita di arrange oleh @abduvolcano trip planner. Sekedar info kalau mereka juga arrange trip ke beberapa daerah lain di lombok dan sekitarnya. Monggoh dikepoin website nya www.abduvolcano.com dan instagram @abduvolcano3726 thank you bang Anas selaku guide kami yang kali ini adalah trip terakhir dia sebelum berhajat kawin . hahaha too much info rite?

kerabat amaq Adhi mengemban anaknya di halaman rumah

 

formasi full team sebelum menuju base camp di Sembalun

Suara kokok ayam jago nampak mengiringi pagi saya di senaru, selintas terlihat asap dari tungku di dapur saat saya melintas ke buritan rumah amaq Adhi untuk menuntaskan hajat pagi saya. Tadi malam kita di jamu menginap dirumah amaq Adhi salah satu yang menjadi porter sekaligus juru masak kami nanti saat mendaki. Tidur yang cukup membuat energi menjadi lebih full. Tak lama kopi pagi yang saya tunggu pun terhidang, sembari melanjutkan perkenalan kita berenam nikmat kopi pagi itu mulai merasuk.

Udara pagi yang bersahaja kala itu, cerah dan hembusan angin gunung yang mulai menerpa tubuh. Saya menyandarkan tubuh di bahu sandaran mobil bak terbuka menuju basecamp sembalun. Selang 30 menit dan melakukan proses administrasi pendakian yang tergolong mudah. Lagi-lagi saya tak segan mencuri pandang sang tuan rumah nan jauh disana, pucuk-pucuk puncak terselubung kabut putih. Rinjani kali ini saya bertandang ke rumahmu, sang dewi Anjani.

Jalur Sembalun nampak ramai oleh pendaki baik dari pendaki lokal maupun mereka yang jauh dari mancanegara. Rinjani sangat tersohor karena keindahan dan jalur-jalur lintasan trekking nya yang lumayan ‘bersahaja’ hahahaha… sebut saja begitu sampai kalian yang datang sendiri untuk menjajalnya. Kami berenampun sepakat untuk mengisi perut dengan sarapan ala kadarnya sebelum menempuh jalur yang ‘bersahaja’ tersebut. Nampak handri dengan porsi extra nya melahap dua piring nasi, sementara saya, ahon, vero dan devri cukup dengan satu piring saja. Lain lagi dengan jeung Ara yang memilih mie instan kemasan untuk mengisi perutnya. Sedikit info jeung Ara merupakan tamu dari Malaysia yang secara random join dengan kita, dan sebutan jeung bukan tidak beralasan buat dia nanti kalian akan tahu sebabnya karena kami memang sepakat memanggilnya jeung basic on her habbit.

Lintasan lumayan landai menuju pos 1

Kami menyebutnya padang savana dan bonus pohon-pohon sebagai pemanis. Jalur ini menawarkan serangkaian hutan dalam lintasan singkatnya selebihnya berupa padang rumput yang luas. Cuaca terik siang itu membuat kami melepas beberapa atribut sehingga udara lebih terasa di tubuh. Sesekali terlihat tukang ojek menawarkan short cut untuk menuju ke pos 2 , wah sangat menggiurkan. Saya mengamati sekeliling dan memang beberapa kali terlihat tukang ojek yang sedang mangkal, jeung Ara tertegun sambil berceloteh pelan ‘seronoknya bisa sampai segera di pos 2 naik kereta’ …

Lalu sambil menoleh ke arah kami dia mencoba memberitahu kalau dia mungkin akan jalan dahulu untuk kemudian rehat di pos 1.

sambil menunggu pelanggan terlihat tukang ojeg yang berhenti di perlintasan menuju pos 2

 

salah satu potret seorang porter di rinjani

 

Pos pertama yang kami tuju telah di depan mata, nampak beberapa pendaki sedang meluruskan kaki dan sebagian merebahkan tubuh disandarkan dengan tas carrier bawaan mereka. Sekumpulan porter terlihat sedang menyiapkan makanan untuk tamu yang mereka bawa. Perjalanan baru seperempat dari lokasi camping kita sebenarnya, oleh karenanya saya memilih untuk tak berlama-lama di pos pertama. Saya bersama Anas sang guide berada paling belakang di rombongan kami, sengaja karena memang saya berniat benar-benar menikmati alur perjalanan pendakian kali ini dengan tidak tergesa gesa. Tak lama vero pun bargabung dengan saya di bagian sweeping alias tim terakhir.

trekking-rinjani-via-sembalun

jalur menuju pos 2 yang lumayan landai dan sedikit berdebu karena hilir mudik pengendara ojek

 

pemberhentian melepas lelah menuju pos 2 jalur Sembalun

 

hamparan bukit dengan savana yang membentang luas tertutu kabut tipis

Sementara jeung Ara, Devri, Ahon dan Handri sudah lebih dulu menjelajah jalur menuju pos 2 kadang kami berkumpul sembari berfoto bersama dan sedikit menyeka peluh. Matahari kian menyengat berselang beberapa ojek motor yang melintas membuat saya harus melipir memberi jalan. Debu pasir mengepul rasanya saya perlu menyegerakan sampai di pos berikutnya untuk sejenak beristirahat. Porter yang sudah lebih dulu sampai di pos 2 mempersiapkan hidangan makan siang kami. Kopi sudah pasti menjadi awal prosesi rehat kami. Pak ledho, amaq Adhi dan amaq Udha dengan cekatan meracik makan siang, menu kali ini adalah nasi plus telor dan tempe goreng beserta sambal khas buatan amaq udha. Wah … maiiikkk!!

 

Menapaki bukit penyesalan tanpa menyesal

Kenyang melanda dan badan mulai enggan beranjak dari pos istirahat kami. Meneguk kopipun menjadi candu melepas kantuk siang itu. Terpaan angin dari lembah Sembalun membuat udara menyengat kala itu terasa sejuk.

Kalian tahu tiupan angin pegunungan yang hembusannya membawa kesejukan, mengeringkan peluh yang mengulir. Saat seteguk demi seteguk kopi yang melenyapkan dahaga serta kantuk yang menyerang. Dalam duduk saya melihat sekeliling, tiap sudut begitu mempesona. Tiap sudutnya seolah dibingkai indah oleh Sang Mahakarya.

Puncak gunung rinjani 3726 mdpl mengintip dari balik bukit penyesalan

 

savana terbentang luas sebelum pos 3 yang terbingkai oleh kabut

 

sejenak mengistirahatkan kaki sembari bercengkerama, foto by Vero

 

Hamparan savana hijau yang memudar kekuningan terpampang luas di depan saya terbingkai manis dengan selintas kabut yang melintas. Lalu sesaat kabut menghilang terganti luasnya biru langit yang membentang diselang beberapa ranting pohon. Terikpun seakan musnah tak terasa. Sesekali puncak Rinjani mengintip dari sela-sela pandangan, seolah mencuat dari barisan bukit-bukit penyesalan. Ah terlalu indah untuk membayangkan saya di puncak Anjani itu.

Meratapi bukit penyesalan yang tersohor ini nampaknya memang lumayan menguras energi. Namun seberat kaki saya melangkah naik, saya pun bersyukur bahwa sepatut namanya bukit penyesalan memang selayaknya dilalui. Dan sedikitpun saya tidak menyesal seperti halnya sebuah penyesalan yang ada dibalik setiap tanjakan dan tanjakan. Hahahaha… nikmati saja toh rasa lelah memang sudah kodrat dalam setiap pendakian dan itu manusiawi.

Puncak sudah terlihat semakin dekat di depan mata, sedikit bersemangat meskipun kadang seolah fatamorgana. Apa yang terlihat dekat bisa saja pada kenyataanya terlampau jauh untuk kita tempuh. Sedari tadi Cuma saya dan vero yang nampak di barisan akhir jalur bukit penyesalan ini, sejenak kami berhenti untuk mengamati sekeliling, pemandangan yang disuguhkan cuma-cuma memang semakin tak terbantahkan indahnya. Landscape Rinjani adalah candu bagi mata saya. Sambil menunggu sang guide kami Anas, kami selingi dengan bercengkerama dengan beberapa pendaki yang melintas. Sekedar bertanya asal muasal, sampai barsautan canda receh.

area menuju plawangan sembalun yang terhampar banyak bunga Sandar Nyawa atau Edellweis

 

tumbuhan pakis yang tumbuh subuh di beberapa spot antara pos 2 dan pos 3

Jalur bukit penyesalan didominasi oleh pohon pinus dan beberapa pohon endemik dataran tinggi lainnya. Tak luput terbentang area bunga Sandar Nyawa atau sering kita sebut bunga Edellweis. Sesekali angin merangsak masuk menggoyang kelopak-kelopak sang Sandar Nyawa, terlihat seolah menari berlatarkan sang puncak Anjani. Alih –alih terlalu asik hingga menjelang maghrib, saya, vero dan Anas masih di perjalanan menuju pos plawangan sembalun. Hari semakin gelap, udara semakin menusuk tubuh kami menyegerakan menuju ke pos plawangan sembalun untuk beristirahat. Gemuruh angin terdengar gemuruh angin bertiup semakin kencang, sebentar lagi saya rasa untuk sampai di camping area plawangan sembalun. Wah apakabar dengan jeung Ara ya? Nampak lelahkah dia? Itu sudah pasti hahahah… setelah beberapa kali terdengar kata penyesalan yang dia sampaikan saat menanjakan kakinya menyusuri bukit penyesalan. Caiyooo jeung Ara.. kamu bisa!!

 

Plawangan Sembalun dan gempuran angin malamnya

Tepat selepas maghrib kami akhirnya mendaratkan kaki letih kami di camping area plawangan sembalun. Angin yang berhembus lumayan kencang diatas sini. Saya merebahkan tubuh sejenak sembari membersihkan diri di tenda kami. Nampak ama’ Adhi sedang mempersiapkan makan malam. Sedikit berbagi cerita dengan Ahon, Handri dan Devri yang satu tenda dengan saya, tentang bukit penyesalan yang kita lalui dan beberapa hal yang kita jumpai selama perjalanan. Tak berapa lama sepi pun menyerang, terlihat sekeliling rupanya mereka mencoba melepas lelah dan tertidur.

Lepas makan malam kami mencoba untuk beristirahat untuk bersiap summit yang rencananya dimulai pukul 2 pagi hari. Okelah  lets just take a nap !!

Nampaknya malam terlalu tangguh untuk kita lewati dengan tidur, malam itu angin bertiup sangat kencang. Tenda kami tak luput dari hantaman angin dan debu berangsur masuk membuat kami harus extra hati2 bernafas. Dingin seolah tak terasa terganti dengan hantaman angin kala itu. Jangankan tertidur kami justru terjaga semalaman. Sampai sekitar pukul 1 pagi saya merasa angin benar-benar menghantam tenda dan terbangun duduk dengan muka berbalut masker untuk melindungi dari debu. Rasanya kita harus urung untuk summit kali ini melihat kondisi yang lumayan berbahaya berada di jalur menuju puncak Rinjani. Kamipun mencoba untuk memejamkan mata sebisanya hingga terlelap.

semburat matahari pagi yang merangsak naik di plawangan sembalun

 

matahari pagi dan hembusan angin di pucuk sembalun

 

plawangan sembalun, base camp sebelum pendakian ke puncak Rinjani

sejenak melepas lelah, beberapa pendaki adalah turis mancanegara yang datang dari berbagai penjuru dunia

Saya kadang mempertanyakan kepada mereka yang datang untuk sebuah penaklukan. Apakah jiwa ini terlalu abai akan proses? Apakah puncak merupakan sebuah keharusan? Saya sendiri kadang tidak berani berujar tentang puncak, karena menurut saya dan beberapa suhu guru menggagahi puncak adalah sebuah bonus saja. Mari kita nikmati setiap jengkal yang ada di depan mata, nikamti setiap langkah naik dan turunnya. Toh puncak nggak akan kemana-mana. Karena sekali lagi buat saya melangkahkan kaki di jengkal-jengkal Sembalun ke Plawangan sembalun sudah merupakan anugrah.

I need to make this as a journey in every single step. And as you know that climb the mountain so you can see the world, not so the world can see you.

16 Comments

  1. Cik ara aka jeung ara 20 Agustus 2017
  2. Bang Doel 22 Agustus 2017
    • PejalanSenjaIndonesia 23 Agustus 2017
  3. Adi Pradana 22 Agustus 2017
  4. Arif punakawan 22 Agustus 2017
  5. Anggara W. Prasetya 22 Agustus 2017
  6. Lilis Khusniati 30 Agustus 2017
    • PejalanSenjaIndonesia 30 Agustus 2017
  7. Adelina Tampubolon 4 September 2017

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Instagram