Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /customers/8/f/8/pejalansenja.com/httpd.www/wp-includes/media.php on line 783 Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /customers/8/f/8/pejalansenja.com/httpd.www/wp-includes/media.php on line 789 Suku Baduy Dalam, Tradisi Mempertahankan Budaya Turun Temurun | Pejalan Senja
Categories: groupiestravel

Suku Baduy Dalam, Tradisi Mempertahankan Budaya Turun Temurun

Kesempatan untuk belajar dari alam adalah pelajaran yang sangat bagus dalam kehidupan. Belajar untuk bertahan hidup dan berbagai cara untuk bisa menjadi apa yang menjadi hakikatnya seorang manusia yaitu being a human.
Sudah lama sekali saya tidak bercerita tentang perjalanan di rumah saya ini. Sepertinya memang saya keasikan untuk ‘bertahan hidup’ di lain sisi. Berbicara tentang bertahan hidup kali ini Suku Baduy Dalam berhasil membuat saya kagum bukan main. Banyak hal tentang bertahan hidup bisa kita temukan disana.

Warga Suku Baduy Dalam – Serang Banten, yang masih mempertahankan budaya

Perjalanan kali ini terealisasi saat salah satu teman saya meminta saya menemaninya escape sehubungan dengan hari ulang tahunnya. Teman saya ini sudah jenuh dengan rutinitas bekerja di kota besar. In short, she just wanna getting lost of somewhere. Seperti short getaway gitu.
Perjalanan dimulai dari stasiun Tanah Abang pagi itu pukul 08.00 WIB. Kereta ekonomi jurusan Rangkas Bitung mengantar kami bersama rombongan lain dalam satu grup travelling. Tiket kereta ekonomi dibandrol seharga Rp.5.000,-. Dengan jarak tempuh kurang lebih 2,5 jam yang menurut saya sangat murah dengan kondisi kereta yang memakai AC betulan ya.
Sampai di pemberhentian pertama yaitu di stasiun Rangkas Bitung kami pun beristirahat makan siang sembari menunggu bus jemputan. Dari stasiun Rangkas Bitung kita masih harus menempuh perjalanan sekitar 2-3 jam menuju ke daerah Desa Ciboleugeur. 
Yakni desa yang merupakan jalur masuk ke daerah pemukiman suku Baduy. Cukup membayar sekitar Rp.25.000,- kita sampai di gerbang masuk pemukiman menuju suku Baduy, kondisi jalan yang lumayan bagus dan berkelok naik dan turun di beberapa point.

Desa Ciboleugeur sebagai jalur masuk ke pemukiman Suku Baduy Dalam

Tepat sekitar pukul 01.00 siang rombongan kami tiba di desa Ciboleugeur, cuaca lumayan terik sembari mengecek beberapa perlengkapan yang kita bawa untuk trekking ke pemukiman suku Baduy. 
Kita disambut beberapa warga Suku Baduy Dalam yang kebetulan rumahnya nanti dijadikan tempat kami menginap. Tak sungkan mereka menawarkan bantuan membawakan beberapa tas bawaan kami. Satu hal yang langsung menjadi pertanyaan saya ketika itu: 
“Berapa lama jarak tempuh menuju ke pemukiman Suku Baduy Dalam?“
Salah seorang anak Suku Baduy dalam (sebut saja namanya bang Sapri) menjawab:
“mungkin sekitar 3 jam tempuh normal”
Desa Ciboleugeur sebagai jalur masuk ke pemukiman suku Baduy sudah sangat tertata. Terdapat Tugu selamat datang yang berupa patung satu keluarga Suku Baduy dan 2 anaknya yang merupakan ikon wisata di provinsi Banten.

Selamat Datang di Desa Ciboleugeur

Sepanjang jalur masuk ke kawasan permukiman kita akan banyak jumpai toko oleh-oleh dan aneka warung makan, pernak-pernik untuk cenderamata dan beberapa penenun kain yang dengan sengaja memperlihatkan proses menenun kain khas Baduy, dan tentunya homestay.

Suasana sepi di sudut pemukiman menuju Suku Baduy Dalam

Trekking menuju pemukiman suku Baduy Dalam

naik turun bukit


Jangan terkecoh sama sub judul di atas, di mana saya menyebutkan kata trekking. Hahahaha memang ada beberapa titik di mana kita diharuskan melalui jalur menanjak dan yah lumayan nanjak sih kalau menurut saya. 
Tapi jangan takut karena guide dan dari pihak tour akan senantiasa mendampingi kita dalam jalur yang berliku dan menanjak naik turun, kalau kata Dalai Lama mah:
semakin berat dan berliku jalan yang kita lalui akan semakin besar kebahagiaan yang kita raih
Amin. Jadi semangat yaa meski naik turun bukit dan beberapa kali melintas sungai tapi sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa bagus.
Beberapa kali kami menjumpai pemukiman penduduk suku Baduy Luar, yakni sekumpulan rumah adat suku baduy beratap jerami dan berdinding kayu yang buat saya seperti masuk ke belahan bumi lain. 

Kita akan menemui banyak jembatan seperti ini di pemukiman Suku Baduy Dalam maupun Luar

Related Post
Beberapa penduduk wanita yang menenun kain di teras rumah mereka menambah suasana menjadi lebih hidup. Saya sempat menemukan seorang anak kecil usia lima tahunan yang sedang menenun kain. Dan membayangkan kalau di kota besar anak seumurannya sedang asik main gadget.

Bermain dengan mesin tenun – bisa melihat ini di perkotaan?

Pemukiman Suku Baduy Luar

Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam dalam adalah Kesatuan

Suku Baduy dalam penggolongannya adalah Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam, penggolongan ini dikarenakan perbedaan yang mendasar mengenai tatanan adat istiadat yang diberlakukan keduanya.
Masyarakat Baduy dalam sendiri masih memegang kuat konsep pikukuh yakni suatu aturan yang isinya tentang keapaadaan secara mutlak dalam kehidupan kesehariannya, sehingga banyak pantangan yang sangat ketat diberlakukan.
Berbeda dengan cara hidup suku Baduy Dalam, masyarakat suku Baduy Luar yang secara garis besar sudah “terkontaminasi” dengan budaya modern seperti penggunaan telepon, bahan-bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari meskipun hal itu masih tetap tidak diperbolehkan.
Dari segi penampilan Suku Baduy Dalam lebih mendominasi dengan berpakaian warna putih dan ikat kepala warna putih sebagai simbol dari kemurnian diri dari dunia luar. 
Serta, mereka memilih untuk tidak memakai alas kaki serta tidak naik kendaraan kemanapun mereka pergi, ya tradisi yang turun temurun mereka jaga sampai sekarang.

Penampakan pemukiman suku baduy dalam dan luar

Jembatan akar – Natural Beauty

Bermalam di Pemukiman Suku Baduy Dalam yang Mengesankan

Kedatangan kami memasuki pemukiman Suku Baduy Dalam disambut dengan hujan yang lumayan lebat, bukan main cuaca saat itu dari terik menyengat sampai hujan mengguyur lebat. 
Kami tak bergeming justru tak satupun dari saya dan teman saya yang mengenakan jas hujan karena memang kami ingin merasakan sensasi hujan di tengah hutan (jangan ditiru untuk yang gampang sakit kena air hujan).
Setibanya di rumah tempat kami singgah kami lanjutkan dengan membersihkan diri mandi di sungai belakang rumah beramai ramai, sekali lagi kami tidak diperbolehkan menggunakan bahan kimia berupa sabun atau apapun jadi judulnya semua kembali ke alam.
Makan malam terhidang dan kamipun makan dengan lahapnya mengingat cuaca yang dingin selepas hujan dan perjalanan naik turun bukit yang sudah kami lalui. Sambil bercengkerama bersama teman-teman yang lain ritual ngopi bareng tak luput dari agenda malam itu yang gelap tanpa penerangan listrik.
Sejenak kita seperti berada di dimensi lain kehidupan yang sangat menyatu dengan alam, selaras dengan alam.
Mengenal suku Baduy Dalam dan Baduy Luar bukan hanya memberikan wawasan mengenai budaya yang murni yang masih hidup di bumi Indonesia, tapi seketika juga mengajarkan kita makna kehidupan dan keselarasan hidup melalui nilai budaya yang diterapkan turun temurun oleh masyarakatnya. 
Suku Baduy Dalam dan Luar, bukan satu-satunya dan diluar sana masih ada beberapa warisan leluhur yang menerapkan hal yang tidak jauh berbeda, mari kita jaga bersama.

Senyum pagi di Pemukiman Suku Baduy

life is really simple, but we insist on making it complicated – confucius

This post was last modified on 3 Juni 2019 9:08 am

PejalanSenjaIndonesia

hallo.. saya Iwan, seorang pejalan yang merindukan 'rumah' nya selalu. penyuka kopi dan kabut pegunungan. mencoba mengabadikan tiap sudut perjalanan dengan tutur cerita dan sedikit berkisah.

View Comments

  • Hal2 simpel biasanya membahagiakan. Orang2 yang gaya hidupnya tetap sederhana apalagi menjaga alam gini kayaknya relatif lebih bahagia drpd yang super syibuk di ibukota. Mungkin gitu ya Mas :D

  • Baduy bagi saya tampak sangat rumit di tengah kesederhanaannya. Yang sekarang membuat saya agak bertanya-tanya, apakah dengan keadaannya sebagai salah satu objek wisata ini keaslian dan kearifannya bisa bertahan? Sebab sayang sekali jika suatu hari nanti keaslian Baduy Dalam pudar karena eksploitasi pariwisata yang jor-joran--mudah-mudahan hal itu tidak terjadi, ya. Paling tidak sebagai wisatawan kita mesti sangat paham dan menyesuaikan diri ketika ada di sana--apa yang saya baca dari tulisan ini sudah sangat mendukung ke arah itu. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, hehe.

    Salam kenal!

  • betul mas gara, setidaknya kita bisa belajar dari kesederhanaan mereka yang menurut saya juga rumit ..hahaahaha

  • simpel dan bikin bahagia... hidup kadang semudah itu ya hehehehe... kita yang bikin rumit kadang

Share

Recent Posts

Menilik Buddha Stupa dan Perjalanan Menuju Pokhara

Pagi hari tepat pukul 05.00 waktu Nepal saya sudah bersiap untuk bangun, niatnya sih untuk…

3 tahun ago

Inerie, Primadona yang Menaungi Kampung Bena di Bajawa

Menikmati perjalanan di Kampung Adat Bena, Bajawa - Flores dan juga pengalaman menuju puncak Gunung…

5 tahun ago

Nyanyian Merdu di Mbaru Niang

Bunyi mesin mobil lambat laun mulai lirih, laju rodapun perlahan mulai melambat. Enam jam perjalanan…

5 tahun ago

Sudut Indah di Kotagede, Sisa Kemegahan Mataram Dahulu Kala

Sedikit yang saya tahu  justru membuat saya akan lebih penasaran akan suatu tempat atau kultur…

5 tahun ago

Karakteristik Backpack Untuk Aktifitas Keseharian

Where can you put all of your stuffs and carry without backpack? Pasti ada alasan…

5 tahun ago

Pictures with Thousand Words

Katanya, foto yang baik, bisa mengungkap ribuan kata. Picture talks thousand words. Kalau foto-foto saya…

5 tahun ago

This website uses cookies.