solo traveling travel

Inerie, Primadona yang Menaungi Kampung Bena di Bajawa

Kabut pembawa hawa dingin melintas hadir di sekawanan bukit di daerah Ngada-Bajawa. Perubahan temperatur cuaca dari Ende ke Bajawa telak membuat saya sedikit tak karuan. Makan tak banyak lapar menghadang, makan banyakpun seolah tak ada selera.

Jaket yang tadi cuma melembari tubuh kini saya pakai guna menghalau dingin udara sore. Saya terus teringat sedari tadi jalan yang dilalui menuju ke Manulalu ini lumayan sepi. Om Klethus sang sopir yang membawa saya ke Manulalu pun tak berhenti menceritakan keadaan di Bajawa ini, sepi yang ada jadi tak dirasa.

Satu teguk moke yakni sejenis sopi khas Bajawa mengalir di tenggorokanku. Di depanku duduk berkeliling om Jimmy dan om Raiz dengan gitarnya. Sapaan om ke kedua kaka ini dikarenakan memang kelihatan lebih senior menurut saya.

segelas-moke-bajawa
segelas Moke khas bajawa yang menghangatkan suasana malam bersama tema-teman

Benar-benar seperti sebuah sambutan, sloki demi sloki mengayun ke seluruh hamba yang hadir di Manulalu, memutar searah jarum jam sampai isi botol habis. Belum sampai oleng diselingi cerita dan gurau kedua kaka ini sekitar pukul 11.00 malam lampu padam serentak. Kita cuma bisa diam, mau beranjak sudah malas kena dingin udara malam.

“… e bintangnya terang sekali di luar ini “ terdengar dari arah luar suara nyaring om Klethus sambil berselempang sarung.

Saya berangsut meninggalkan putaran sloki moké dan berjalan menuju ke kamar dengan menahan dinginnya udara malam itu. Benar apa kata om Ethus, sembari mendongakan kepala menuju ke kamar terlihat gemerlap bintang malam itu terang sekali ditambah bunyi-bunyi tonggeret di sekitaran.

Istirahat Sejenak di Manulalu, Sebelum Bertemu Gunung Inerie

Manulalu BnB tempat saya menginap ini semacam penginapan di daerah Manulalu posisinya 20 menit sebelum kampung adat Bena Bajawa. Adapula Manulalu Bungalow yang posisinya juga berdekatan namun lebih seperti resort dan view nya juga lumayan bikin males ke mana-mana.

Barangkali memang udara pagi yang dingin yang menggerakan badan ini untuk segera bangun dan beranjak dari kasur. Pagi itu selepas subuh saya langsung memenuhi panggilan hajat, suatu cara melepas beban tubuh yang alami. Yak posisi ruang ‘semedi’ saat itu memungkinkan untuk melihat matahari yang pelan-pelan mulai keluar.

Saya segera menyudahi semedi saya dan langsung menuju ke balkon bungalow untuk sekedar diam dan setidaknya menyambut datangnya sinar matahari pagi.

Takjub, tak bergeming dari posisi saya duduk bersila di lantai balkon. Di haluannya nampak kabut menutupi Inerie mulai berangsur menghilang.

Tak lama segelas kopi terhidang di meja teras kami, suatu kombinasi yang yahud pagi itu. Tak menunggu lama saya segera menyeruputnya. Sambil mengingat ingat agenda hari ini untuk berkeliling Ngada dan sekitaran Bajawa.

Berkeliling Ngada dan Sekitaran Kampung Adat Bena Bajawa

Tujuan kami yang pertama tak lain adalah kampung adat Bena, Bajawa yang lokasinya tak jauh dari penginapan. Menempuh waktu sekitar 15 menit kami diantar oleh Om Klethus yang pagi itu sudah standby sedari pukul 09.00 pagi.

kampung adat bena bajawa
lansekap view kampung adat Bena di kaki Gunung Inerie Bajawa

Persis di kaki gunung Inerie, pesona kampung adat Bena memang yang menjadi salah satu daya tarik orang datang ke Bajawa. Rumah-rumah adat yang tersusun berjejer dan batuan berundak tempat upacara adat berlangsung menjadi magnet dari banyak orang yang ingin berkunjung kemari.

Saya sendiri sempat tertegun saat memasuki kawasan kampung adat Bena, mengamati aktifitas keseharian penduduk asli di sini seperti kembali ke masa lalu. Beberapa hal memang dijaga tetap otentik seperti dahulu kala.

kampung adat bena bajawa di kaki gunung inerie
beberapa susunan Batu yang berfungsi sebagai penutup makam di tezgah area pemukiman
bangunan khas di kampung adat bena
Bangunan Bhaga berupa pondok kecil tanpa penghuni berada di tengah pemukiman adat

Tulang-tulang hewan hasil pesta persembahan upacara yang masih tersusun rapi di tiap rumah menggantung diatas teras masing2 rumah. Mama yang menenun kain di teras sesekali melempar senyum saat saya mengamatinya.

Saya duduk sambil terus mengamati sudut-sudut dan detil bangunan, terlihat bapa tua menghampiri saya. Bapa Yacobus memperkenalkan dirinya, lalu beliau bercerita tentang masa muda dan waktu beliau masih melanglang buana keluar Flores.

Dengan keterbatasannya sekarang bapa Yacobus hanya bisa berada di kampung Bena, kedua matanya sudah tidak bisa melihat namun nyanyian serulingnya tetap menggaungkan keindahan penikmatnya. Saya jadi teringat kembali suara merdu bapa Alex di Wae rebo.

Saya duduk tepat di sebelah bapa Yacobus dan sesekali saya mengusap pundaknya. Entahlah mungkin sekedar memberi isyarat kalau saya senang berada disampingnya dan mendengarkan banyak cerita darinya.

potret-bapa-yacobus
potret bapa yacobus dengan serulingnya
pembuat-ukiran-kayu
potret bapa pembuat kiran dari kayu sebagai bua tangan untuk dijual ke pengunjung kampung bena

Matahari mulai segaris di atas ubun-ubun dan saya pun menyudahi bermain di kampung adat Bena ini. Di depan saya masih tegap menjulang Gunung Inerie yang diselimuti kabut.

Om Klethus yang sedari tadi menunggu di dekat pintu keluar sudah siap menancap gas ke tempat selanjutnya, ya kami dibawa melintasi kebon kopi lalu tiba di bukit dengan pemandangan cantiknya.

Ke Bajawa belum lengkap kalau belum minum kopi Bajawa. Diolah oleh koperasi kopi, kedai kopi Bajawa menjadi langganan wisatawan sekedar mampir mencicipi kopi Bajawa.

Saya tidak akan mengulas tentang kopi kali ini, lain kali saja. Cukup nikmati saja kopi yang terhidang di tengah sejuknya udara kota Bajawa.

kain tenun kerajinan tangan khas kampung bena bajawa
Mama menawarkan kain tenun hasil kerajinan tangan

Saya kembali ke penginapan, masih berangan-angan untuk naik ke puncak Inerie yang berdiri megah dihadapan teras penginapan.

Berbincang dengan pengurus penginapan tentang pendakian ke Gunung Inerie membuat keinginan saya makin besar untuk berada diatas sana. Berada di sergapan kabut puncak, di langit Bajawa.

Alunan lagu payung teduh menemani saya malam itu. Bait demi bait lyric nya terdengar dalam, seperti mala mini terasa senyap.

“Tidurlah… malam terlalu malam, tidurlah… pagi terlalu pagi”… sampai kemudian saya terlelap…

Persiapan Memulai Trekking di Gunung Inerie

Pagi itu udara dingin semilir perlahan masuk disela-sela dinding kayu menembus kedalam ruang mimpi kami. Tepat pukul 02.00 dini hari alarm berbunyi seketika saya terbangun. Ya pagi itu saya sudah harus bersiap untuk trekking ke Inerie. 30 menit kemudian terdengar suara mobil masuk ke area penginapan kami.

Setengah mengantuk saya bergegas keluar dengan muka seadanya. Tas kecil untuk kamera serta kudapan bekal naik nanti tak lupa saya bawa. Kami meluncur ke titik awal tempat pendakian yang berjarak sekitar 30 menit dari penginapan dengan laju rata2 30km/jam.

“ Pelan pelan saja, masih mengantuk kita orang ” Om Fredy membuka obrolan pagi itu.

Pendakian Gunung Inerie

Om Fredy sudah sering mengantar tamu naik ke Inerie, bahkan dalam sehari dia bisa naik turun sampai dua kali ketika banyak tamu yang akan naik ke Inerie. Pagi itu saya, Mai dan Om Fredy memulai pendakian yang dadakan ini akhirnya.

Kondisi masih lumayan gelap dan udara dingin nampaknya sedikit memperlambat langkah kami, sesekali saya mengambil nafas panjang lalu mengaturnya kembali menyesuaikan langkah kaki.

Bekal kami pagi itu terhitung tiga buah coklat kemasan kecil dan masing-masing sebotol air minum kemasan ukuran 600ml. Dirasa cukup kamipun terus bergegas naik sambil sesekali berhenti mengatur nafas.

Entah salah makan atau memang efek moké semalam di tengah perjalan perut terasa mules dan akhirnya saya dan Mai bergantian untuk buang air besar sementara om Fredy menunggu kami di depan.

Nampak memang sudah keharusan ada adegan buang air besar di setiap pendakian saya. Entahlah naluri tukang berak mungkin.

Tiba kurang lebih sepertiga perjalanan kami memutuskan untuk rehat sebentar, sekedar meluruskan kaki. Kabut mulai menyelimuti sekitar kami, angin gunung berhembus sayup lalu kencang. Gerimis turun menambah syahdu pagi itu. Saya berfikir untuk tidak berharap sunrise pagi itu melihat kondisi cuaca yang tidak mendukung.

Jiwa-jiwa yang murung serta hujan di kabut pagi adalah suatu kombinasi yang ekletik. Setiap tetesnya mengisyaratkan kenangan yang tersungkur di waktu yang silam.

Pikiran Random di tengah pendakian –

Menuju Puncak Gunung Inerie, Bajawa – Flores

Ah makin dinikmati makin malas melanjutkan perjalanan kami ke puncak Inerie, pelan-pelan kamipun berjalan beriringan dengan kabut dan gerimis.

Sampai pada akhirnya om Fredy memberitahu saya kalau puncak sudah terlihat di depan, sedikit menambah laju langkah saya coba menyemangati Mai untuk terus berjalan.

bajawa dari puncak gunung inerie
lansekap Bajawa dari salah satu puncak Inerie saat kabut mesih menyelimuti pati
pemandangan dari puncak gunung inerie bajawa flores
lansekap Bajawa dari salah satu puncak Inerie saat kabut mesih menyelimuti pati

Lalu memang benar kami akhirnya sampai di puncak, dan tunggu dulu! Puncak yang dimaksud ternyata hanya puncak bayangan setelah kabut tersapu bersih oleh angin dan terlihatlah puncak sebenarnya di atas sana.

Saya dan om Fredy berjalan memutar untuk menuju puncak sementara Mai memilih menunggu di titik pincak bayangan. Sekitar 4o menit meniti jalan dengan pijakan batu kerikil dan kemiringan yang lumayan curam akhirnya kami sampai di puncak Inerie.

Terlihat di sisi kanan saya saat menghadap ke arah timur berupa laut sabu dan konon saat cuaca dan langit cerah pulau Sumba bisa terlihat dari atas sini. Saya belum beruntung mungkin namun syukur saya untuk bisa berada di puncak Inerie dengan selamat.

barisan perbukitan bajawa dari puncak gunung inerie
Barisan Perbukitan Bajawa dari puncak Gunung Inerie

Sambil mengistirahatkan kaki saya dan om Fredy duduk sambil menikmati pemandangan dari puncak, barisan bukit yang berada di daratan Bajawa terlihat menawan serta piramida Gunung Ebolobo yang membumbungkan asap ke udara nampak gagah.

Jalur Turun yang Lumayan Terjal oleh Batu dan Kerikil

Gunung Inerie memang sangat jarang dikunjungi pendaki, terlihat pagi ini hanya ada kami bertiga di sini. Dan memang tidak ada pos atau shelter yang dibuat khusus untuk tempat pendaki beristirahat. Jalur untuk turunnya pun masih lumayan curam dan berkerikil, salah pijak sedikit langsung merosot kita dibuat.

Kamipun sangat berhati hati berbeda dengan om Fredy yang sudah sering naik turun Gunung Inerie pijakan-pijakannya sudah hafal betul. Sesekali Mai merosot dengan posisi duduk di beberapa titik.

Lalu tiba pada sebuah jalur turun dengan komposisi kerikil dan pasir laluannya. Seperti main perosotan saya dan Mai lalu meluncur ke bawah tanpa peduli pasir memenuhi sepatu kami. Seru!!

Sampai di titik selanjutnya kami melanjutkan dengan menuruni padang savanna dengan terik matahari pagi dan rasa haus mendera. Mencoba mempercepat laju jalan kami menuruni Inerie menunggu mobil yang akan mengantar ke penginapan.

Sekitar 3 jam waktu tempuh kami sampai di titik penjemputan dari puncak Inerie. Sungguh pendakian yang impulsive buat saya.

Konspirasi Alam di Bajawa, Flores

Saya duduk di samping tengah, jendela mobil sengaja terbuka membiarkan angin menerobos masuk menerpa wajah. Masih terasa terpa’an kabut pagi tadi dan tetes demi tetes gerimis yang kami alami pagi tadi saat matahari enggan keluar.

Langkah demi langkah yang kami antarkan untuk sampai di atas sana. Dengan suguhan pemandangan yang luar biasa indah dari atas Bajawa, dari jantung Flores.

Semesta kadang berkonspirasi dengan caranya, Inerie yang beberapa kali saya hanya bisa lihat lewat jendela pesawat dan bahkan pernah sekali saya duduk di bus menuju Ende melihat megahnya Gunung Inerie, kini saya berada di puncaknya.

kampung adat bena bajawa di kaki gunung inerie
Perkampungan megalitikum (Kampung Adat Bena di Bajawa, Flores) yang berada di kaki Gunung Inerie

Semoga Ada Alasan untuk Kembali Lagi

Seberuntung saya mendengar suara seruling Bapa Yacobus serta petualangannya di masa dulu, terimakasih.

Sehangat jabat tangan bapa penjual kain di kampung Bena yang serta merta memeluk saya saat kami pamit pulang.

Selega suara tawa selepas tiap tegukan moké bersama om Kletus, Ade, om Jimmy dan Om Rais malam itu. Kadang sesederhana itu saya merindukan kembali ke Flores.

Mudah-mudahan akan selalu ada alasan untuk kembali lagi.

Pejalan Senja yang melankolis

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Instagram